Ingin Jadi Presiden!

Kota ini selalu penuh cerita, memberikan makna dalam setiap nafas kehidupan. Sore ini aku menjalani rutinitas seperti biasa. Hari ini aku pulang dengan menumpang KRL CL. Dalam perjalanan menuju stasiun, aku menyaksikan aktifitas yang sedikit tak lazim ketika melewati istana Negara. Tampak sebuah kesibukan beberapa aparat polisi, paspampres, hingga beberapa orang berbaju safari hitam. Mereka sepertinya sedang bersiap-siap untuk mengawal sang RI 1 untuk menempuh perjalanannya. Dari sana aku berpikir, alangkah beruntung nya kami yang tinggal di kota ini. Aktifitas-aktifitas seperti itu tampak sebagai hal yang biasa terjadi. Dulu sewaktu di Sekolah Dasar, banyak diantara kami yang bercita-cita menjadi presiden. Aku masih ingat betul ketika kami melakukan studi visit ke beberapa museum dan objek wisata di sekitar Jakarta. Betapa mudah nya akses kami ke tempat-tempat tersebut. Saat itu belum terpikir oleh ku bagaimana nasib anak-anak seusia kami yang juga sedang bersekolah dengan harus menempuh perjalanan jauh dan melelahkan. Di pelosok negeri sana, mungkin tak terpikir oleh mereka untuk mengunjungi Monas, Planetarium, Museum Nasional, atau bahkan Istana Presiden. Semua itu masih jauh dari angan mereka, karena untuk mendapatkan pendidikan saja mereka harus berjuang keras. Kami disini bisa kerap kali kesal dengan penutupan jalan yang dilakukan jajaran pengaman presiden kalau orang nomor satu itu akan melintas. Kami sering menggumam dan mengumpat kesal karena jalan kami terhalang. Tapi di pelosok sana, di belahan nusantara lain, ada impian anak-anak bangsa yang ingin bertemu presiden nya, menjadi sepertinya, atau bahkan sekedar melihat istana nya dari kejauhan.

Istana negara Indonesia

Anak-anak di pelosok negeri sana mungkin hanya mampu melihat Sang Pemimpin Negeri melalui televisi dirumah, ahh itu pun kalau mereka punya. Pembangunan di Negara ini memang belum merata. Kami anak-anak ibukota sangat mudah mendapatkan akses informasi karena disini lah pusat roda bisnis dan pemerintahan. Jika disini kami terkena bencana banjir besar, maka mungkin penderitaan kamu belum seberapa dibanding anak-anak di tanah air ini yang belum mampu mendapakan akses pendidikan. Mereka setiap hari terkena ancaman buta huruf dan miskin pengetahuan, padahal mereka adalah calon pemimpin negeri ini kelak. Betapa kami warga ibukota harus bersyukur dan berbagi nikmat dengan siapa saja di belahan tanah ini yang belum seberuntung kami. Sore ini Jakarta kembali menenggelamkan ku kepada rasa syukur yang tak berbatas. Terima kasih Jakarta!

-Sore yang cerah di hari selasa, 29 Januari 2013-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s