tentang Jakarta dan ayah tercinta

akhir akhir ini, jakarta mulai memasuki masa kritis, musim hujan dan banjir. ya, banjir di Jakarta adalah bagian dari sebuah siklus, makanya bisa disebut ‘musim banjir’. diluar isu politik tentang penanganan banjir di ibukota, ada satu hal yang membangkitkan memori saya tentang musim banjir ini.

dulu sewaktu saya dan keluarga memutuskan pindah rumah ke lokasi yang sekarang, saya masih sangat awam untuk memahami hal ini, tapi sekarang, saya bukan hanya memahami nya, tapi merasakan manfaatnya.

singkat cerita, kami sekeluarga akhirnya menyelesaikan masa-masa jadi ‘kontraktor’ alias kontrak-kontrak rumah untuk berteduh. memori saya saat itu adalah sekitar awal tahun 90an, dan usia saya masih sekitar enam tahun, karena saya ingat betul saat itu pula saya pertama kali masuk sekolah dasar. di masa itu, jalanan di sekitar rumah kami relatif sangat sepi, karena letak rumah nya pun di kampung, bukan di kompleks atau real estate area. di sekitar rumah saya masih ada sawah, ladang, lapangan sepak bola alami (bukan buatan atau indoor seperti sekarang), bahkan di depan rumah saya masih ada lapangan bulu tangkis. saat itu Indonesia memang sedang berjaya dalam olah raga ini, jadi hampir di semua RT bisa dipastikan punya lapangan bulutangkis, tak terkecuali RT saya.

kalau dilihat struktur masyarakat di sekitar rumah saya, sebagian besar di dominasi oleh masyarakat asli betawi, well.. namanya juga dikampung. perlahan semakin penuh sesak dengan para pendatang, dan mereka pun semakin sulit dikenali sebagai pendatang lantaran sudah menahun tinggal di Jakarta, bahkan sampai beranak cucu. selain struktur masyarakat di sekitar rumah saya, ada satu hal menarik yang juga bisa ditemui, yaitu struktur rumah saya.

orang tua saya memang bukan arsitek atau pecinta seni fanatik. desain rumah saya hanya sebatas desain rumah mediteran yang menyesuaikan dengan iklim tropis, tidak banyak yang istimewa. namun satu hal yang saat itu tidak pernah saya sadari adalah bangunan rumah kami adalah bangunan paling tinggi yang ada di sekitar kampung. struktur bangunan dibangun diatas sekitar lima meter dari jalan di depan rumah, dan struktur rumah dibangun satu meter lebih tinggi lagi. jadi lantai dasar rumah kami saat itu berjarak kira-kira enam meter dari jalan raya.

saat itu tidak pernah terpikir oleh saya maksud dari semua itu. tapi kerap kali saya mendengar ayah saya bicara masalah ‘masa depan’. beliau kerap kali bicara kira kira seperti ini:

“nanti sepuluh tahun lagi, pasti di pertigaan ini udah macet”

“nanti sepuluh tahun lagi, kita gak bisa parkir lagi di depan rumah”

“nanti sepuluh tahun lagi, telpon rumah gak laku soalnya tiap orang punya telpon”

“nanti sepuluh tahun lagi, mungkin rumah kita udah rata sama jalanan”

itulah kira-kira proyeksi beliau tentang masa depan. ketika itu, saya tidak terlalu paham makna semua itu. tapi ibu saya kerap kali mengulang pernyataan beliau ketika sedang berbincang.

maka ketika waktu pun berjalan begitu cepat, hingga sampai ke tahun 2007, dimana Jakarta dilanda banjir ‘lima tahunan’ dan dimana itu adalah kira kira ‘sepuluh tahun’ dari perbincangan masa depan tersebut, dan saya sudah cukup mampu untuk memahami makna dari sebuah proyeksi, saat itulah saya sadar dan teringat pembicaraan ayah saya. saat itu, di sepanjang kampung, hanya rumah kami yang tidak masuk air, sisanya minimal masuk semata kaki dari air banjir yang melanda. jadilah rumah kami sebagai tempat pengungsian barang-barang elektronik dan sepeda motor milik para tetangga. masih segar di ingatan saya betapa saya dan adik-adik saya sibuk membantu para korban banjir menyelamatkan harta benda mereka, dan kemudian menampung mereka di garasi rumah kami untuk tidur, karena rumah mereka sudah tidak layak lagi dihuni, khususnya bagi para ibu dan bayi.

seketika kami sibuk bak tim SAR yang sedang melakukan misi kemanusiaan. saya sibuk mendata barang-barang titipan, dan ibu saya sibuk mempersiapkan logistik untuk para pengungsi. praktis rumah kami berubah dan wilayah privasi kami sekeluarga hanya sebatas kamar tidur dan kamar mandi di dalam kamar. karena sisanya sudah menjadi fasilitas umum.

saat itu saya sadar bahwa ayah saya berpikir sangat futuristik tentang struktur rumah kami. beliau sudah memiliki proyeksi tentang masa depan, mungkin prediksi beliau bagi sebagian besar orang saat itu dianggap remeh. tapi beliau yakin bahwa kehidupan masyarakat akan terus berubah secara dinamis, dan itu terbukti dengan cerita di atas. hal itu pun dirasakan manfaatnya bukan hanya oleh anggota keluarga, tapi juga masyarakat sekitar.

memori ini adalah tentang dua hal, itulah kali pertama saya benar-benar menjalani ‘misi kemanusiaan’ sebagai penampungan korban banjir, sekaligus tentang seorang ayah juara yang selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi keluarganya.

prediksi beliau tentu tujuan utama nya adalah menjaga segenap anggota keluarga nya dari segala kemungkinan buruk yang terjadi di masa depan. yaa… itulah ayah saya… semua hal harus dicermati dan diteliti sebelum dilakukan. semua kemungkinan harus dengan matang dipertimbangkan. semua konsekuensi harus dipahami sebelum bertindak.

masih hijau rasanya ketika beliau memberikan nasihat tentang mengendarai mobil. bahwa ketika mengendarai mobil adalah bukan hanya tentang keselamatan pribadi sang supir, melainkan juga keselamatan para penumpang dan orang orang di jalan. jadi ‘bisa nyetir’ itu bukan sekedar bisa ‘maju mundur’ tapi tentang bagaimana memahami etika dan aturan di jalan raya. sebuah nasihat lain tentang rajin merawat diri dengan olah raga, makan sehat, dan sikat gigi secara rutin yang mungkin terkesan sepele, tapi sangat berimbas dengan habit dan keseharian saya. semua itu demi sebuah hidup yang sehat dan berkualitas. aahh… beliau sungguh memaknai hidup bukan hanya sekedar hidup. sehat adalah sebuah nikmat dan titipan, jadi harus dijaga sebaik mungkin.

rupanya banjir Jakarta saat ini pun banyak mengingatkan saya dan memberi pelajaran buat saya. pun hari ini saya kembali pada memori masa lalu. Tuhan tidak akan menciptakan masalah tanpa solusi, hanya terkadang manusia terlalu mudah lelah untuk mencari solusi itu. semoga segenap warga Jakarta dan pemerintah bisa terus berjuang dan tidak mudah lelah untuk mencari solusi masalah-masalah ibukota.

salam rindu dari “ibukota north england” untuk kota Jakarta dan ayah tercinta…

Manchester, 11.02.15

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s